You are Unregistered, please register to gain Full access.    

Go Back   The Largest Aceh Community > DISKUSI > Heart to heart > Stories from the heart


Reply
 
Thread Tools Display Modes
Old 03-04-2007, 08:00 AM   #1
zxbakri
Contributor
 
zxbakri's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Lhokseumawe-Aceh
Posts: 1,567
Thanks: 43
Thanked 16 Times in 12 Posts
zxbakri is on a distinguished road
Send a message via Yahoo to zxbakri Send a message via Skype™ to zxbakri
Default Kisah Sang Dokter Dari Lhokseumawe

Kisah Sang Dokter Dari Lhokseumawe

Minggu, 04 Maret 2007
Reportase

Lengkingan Unik Sang Dokter


Sempat patah arang karena suaranya dinilai cempreng.

TOMPI

Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Pukul 06.10

Jakarta terbangun. Meski hari masih sangat muda, suasana Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, telah menggeliat. Tompi, yang mengenakan jas putih dokternya, turun dari mobilnya, Nissan Serena hitam metalik. Ia berjalan menuju bangsal rawat inap anak.

Pagi itu Tompi mendapat giliran bertugas di bagian anak rumah sakit pemerintah tersebut. Kegiatannya itu bagian dari kuliahnya di program spesialis bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Bersama seorang dosennya dan empat rekannya, ia memeriksa puluhan anak di bangsal rawat inap di bagian belakang gedung rumah sakit itu.

Sejak kuliah di program spesialis bedah pada 2005, hari-hari Tompi memang supersibuk, terutama memasuki tahun kedua kuliahnya sekarang. Sekitar pukul enam pagi, ia sudah berangkat dari apartemennya, Aston Rasuna Residence, Kuningan, Jakarta Selatan. Dari pagi hingga sore ia bertugas di rumah sakit atau berada di ruang kuliah.

Namun, Selasa lalu waktu Tompi cukup longgar. Ia hanya bertugas hingga pukul 10.00. "Kebetulan hari ini nggak ada pasien yang dibedah, jadi tugasnya bisa selesai lebih cepat," kata dokter 28 tahun itu ketika kami berjalan menuju kantin di belakang gedung bangsal rawat inap anak. "Saya juga nggak ada kuliah di kelas."

Sambil menikmati opor ayam, Tompi berkisah tentang kuliahnya. Awalnya, pria Aceh bernama asli Teuku Adifitrian itu tak bercita-cita menjadi dokter. Hanya, ketika lulus dari SMA Modal Bangsa, Banda Aceh, pada 1997, ibunya menyarankan agar ia kuliah di kedokteran. "Apalagi di keluarga saya nggak ada yang kuliah kedokteran," anak kedua dari empat bersaudara putra pasangan Teuku Zulkifli dan Safura itu menjelaskan.

Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2003, Tompi berpraktek di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara. Dua tahun berselang, pria kelahiran Mon Geudong, Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978, itu memutuskan mengambil spesialis bedah plastik. Menurut dia, spesialis itu dipilihnya lantaran ia memang tertarik. "Kebetulan dokter bedah plastik juga masih sedikit di Indonesia," ujarnya.

Hari beranjak siang. Sekitar pukul 11.00 Tompi mengajak ke kantor PT E-motion Entertainment di Jalan Blora, Menteng, Jakarta Pusat. E-motion merupakan produser album terbaru Tompi yang bertajuk Playful. Di kantor itu ia akan rapat tentang rencana promosi albumnya tersebut.

Kantor E-motion Entertainment, Menteng, Pukul 11.15

Setiba di E-motion, Tompi langsung naik ke lantai dua kantor itu. Ia menuju ke ruang rapat. Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 11.20 itu berakhir setengah jam kemudian. Tompi kemudian mengarahkan mobilnya ke Kuningan, Jakarta Selatan. Ia akan menemui Lewis Pragasam, drummer kawakan dari Malaysia, rekan satu grupnya di Bali Lounge. "Ia kebetulan menginap di apartemen yang sama dengan tempat tinggal saya," katanya.

Tompi berkenalan dengan Pragasam pada 2004. Saat itu ia menjadi vokalis Bali Lounge, sebuah band yang beranggotakan pemusik multinegara. Lewat grup musik bernuansa etnik itu pulalah ia mulai dikenal. Hanya, saat itu pria dengan tinggi 160 sentimeter dan berat 58 kilogram itu masih menggunakan nama aslinya, Teuku Adifitrian. "Padahal saya sudah minta ke produsernya untuk memakai nama Tompi saja," ujarnya. "Sebab, itu nama panggilan saya sejak kecil."

Dunia musik mulai dikenal Tompi sejak sekolah menengah pertama. Saat itu ia tergabung dalam marching band Arun Cakradonya Drum Corps, Lhokseumawe, sebagai peniup terompet. Boleh dibilang bakat seninya menurun dari ibunya, seorang guru tari tradisional Aceh.

Dan sejak itu pula Tompi mulai menjajaki dunia tarik suara. Ia menggandrungi lagu-lagu pop yang dilantunkan Obbie Messakh, Pance Pondaag, dan Rinto Harahap. Hingga suatu hari ia ikut tes menjadi anggota paduan suara di sekolahnya, SMP Taman Siswa Lhokseumawe. Ternyata ia tak lolos. Sebab, menurut pengujinya, suaranya mirip kaleng rombeng sehingga tak cocok untuk paduan suara.

Tompi belia pun meradang. Ia memutuskan berhenti menyanyi. Barulah ketika kuliah di Jakarta, kepercayaan dirinya pulih kembali. Alkisah, dalam orientasi penerimaan mahasiswa baru, ia diminta menyanyi oleh seniornya. "Terus terang saya menyanyikan lagu Easy-nya Lionel Richie sambil gemetar," katanya mengenang.

Tak dinyana, ternyata sambutannya luar biasa. Sejumlah seniornya meminta Tompi menyanyi lagi. Karena hanya bisa satu lagu itu, ia pun kembali menyanyikan lagu yang sama. "Para senior mengatakan suara saya unik dan cocok menjadi penyanyi jazz."

Tompi sendiri menyebut vokalnya itu jenis suara serak. Toh, pria energetik itu tak pusing dengan warna suaranya. Baginya, yang penting adalah bagaimana cara menyanyi dengan menggunakan suara itu. Resep itulah yang kemudian diusungnya ketika ia pertama kali menjadi penyanyi profesional di Kafe La Bodega di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada sekitar tahun 2000.

Setelah itu, pria yang kerap tampil dengan topi khas ini malang-melintang menjadi penyanyi di sejumlah kafe di Jakarta, termasuk di Hotel Four Seasons. Demi mengasah talentanya, ia berguru kepada musisi jazz Cut Nyak Deviana--di samping belajar secara otodidaktik. Hasilnya, pada 2003 ia diajak menjadi vokalis Cherokee saat grup jazz fusion itu manggung di Singapura. Setahun berselang, ia bergabung dengan Bali Lounge, juga sebagai vokalis.

Langkahnya di jalur musik kian mantap ketika ia menelurkan album solonya bertajuk T, inisial nama panggilannya, pada Juli 2005. Sekitar tiga bulan berselang, penggemar Al Jarreau dan Billie Holiday itu meluncurkan Soulful Ramadhan, sebuah proyek album menyambut bulan suci. Dan pada awal 2007, ia merilis album terbarunya, Playful.

Meski banyak yang menyebut warna vokal dan musik dalam album-albumnya kental bernuansa jazz, Tompi lebih suka disebut sebagai penyanyi pop. Sebab, di matanya, jazz yang penuh improvisasi itu merupakan cara membawakan lagu dan bermusik. "Sehingga, semua jenis dan aliran musik bisa di-jazz-kan," ia menjelaskan.

Apartemen Aston Rasuna Residence, Kuningan, Pukul 12.30

Di bilik 1709 Apartemen Aston Rasuna Residence, Lewis Pragasam menyambut kami dengan ramah. Ia merangkul Tompi. Pragasam, yang datang bersama koleganya, Christian, seorang gitaris Australia, kemudian mengajak menyimak album terbarunya, Open Beyond, yang akan diluncurkan sekitar April mendatang. Di album bernuansa world music itu Tompi membawakan satu lagu, Last Matter.

Sejak mendirikan Asiabeat pada 1979, grup yang dimotori Pragasam itu telah menghasilkan lima rekaman mendunia. Di antaranya, Asiabeat dan Drumusique. Selain urusan album barunya itu, di Jakarta Pragasam juga tampil bersama grupnya dalam Java Jazz Festival 2007, yang digelar pada 2-4 Maret ini.

Tapi obrolan kami siang itu lebih banyak menyinggung perkembangan musik di Asia. Maestro perkusi dari Malaysia itu menyatakan musik Asia bisa bersaing di dunia jika para musisinya tampil dengan karakter khasnya. "Jadi, bukan mengekor musik Barat atau negeri lainnya," kata Pragasam, yang diamini Tompi.

Begitulah. Sekitar pukul 14.00, Tompi pamit untuk pulang ke apartemennya di lantai 8 di gedung yang sama. Di pintu biliknya, istri Tompi, Arti Indira, yang juga seorang dokter, menyambut kami. Perempuan berjilbab itu menyilakan Tempo duduk di ruang tamu.

Sejak menikah pada September tahun lalu, pria yang suka tantangan itu memutuskan tinggal di apartemen itu. "Di sini harga sewanya tak begitu mahal," katanya. "Akses ke mana-mana juga mudah," Tompi menjelaskan tentang pilihannya menetap di sana.

Petang sekitar pukul 18.15, kami meluncur ke Studio 48 di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Tompi, yang berkolaborasi dengan band Groovology dan grup acapella Java Island, akan melakukan latihan terakhir sebelum tampil di hari pertama Java Jazz Festival 2007.

Sepanjang perjalanan, Tompi bercerita tentang dua dunia, bermusik dan kedokteran, yang kini digelutinya. Menurut dia, dua-duanya akan jalan terus karena ia mengerjakannya dengan komitmen. Tapi, jika jadwal bertabrakan, pria yang punya hobi sepak bola itu memilih kedokterannya. Sebab, boleh dikatakan bermusik hanya sambilan.

Yang jelas, bermusik merupakan upaya refreshing dari kepenatannya kuliah di kedokteran. Sedangkan logika berpikir yang diperoleh di bangku kuliah dijadikan modal dalam memecahkan masalah yang kerap ditemuinya saat bermusik. Misalnya, bagaimana ia bisa tampil dengan baik ketika harus berkolaborasi dengan sebuah band yang baru dikenalnya. "Nah, di situlah logika berpikir dipakai untuk memecahkannya," Tompi menerangkan.

Studio 48, Pejaten, Pukul 19.15

Latihan mulai digelar pada sekitar pukul 19.30. Setelah mereka berdiskusi sekitar 15 menit, lagu pertama Part Time Lover milik Stevie Wonder mengalun. Dalam Java Jazz Festival 2007, Tompi berkolaborasi dengan Groovology dan grup acapella Java Island itu membawakan sekitar delapan lagu, termasuk lagu-lagu dari album terbarunya, Playful, seperti, Balonku, Lulu dan Siti, serta Can You Feel My Music?.

Semua lagu yang dibawakannya itu beraransemen baru. Bagi Tompi, keberhasilannya bernyanyi di panggung adalah manakala ia bisa membawakan lagu tanpa perlu sama dengan aslinya, tapi tetap enak didengar dan mengundang penonton beraksi. "Keberhasilannya ketika saya bisa membawakan lagu yang langsung kena dengan emosi penonton," kata penyanyi yang berobsesi untuk go international itu.NURDIN KALIM

koran tempo


__________________
"Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka;
namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu
tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak
melihat pintu lain yang telah terbuka"


www.zainalbakri.co.cc
zxbakri is offline   Reply With Quote
Sponsored Links

Reply

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Forum Jump

Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
kok diagnosanya beda?? *elly* Kesehatan 1 08-09-2008 02:00 AM
Dekonstruksi Teori Islamisasi Acheh Versi Snouck Hourgronje hirarai SEJARAH 0 06-24-2008 02:37 PM
Dimana ALLAH jwb.. DI LANGIT kafrawi Agama islam 34 02-07-2008 10:56 AM
Shalat dengan Mengenakan Baju Ketat se_mut Agama islam 5 10-14-2006 01:46 AM
Naskah Uu Pa(tolong Dipahami) yudi_randa Banda Aceh 6 10-12-2006 10:01 AM


All times are GMT +7. The time now is 10:27 AM.


Powered By AcehFo®um
Copyright © 2005 - 2009 Welcome
Forum SEO by Zoints
AcehForum