Air Laut Merah Rambah Perairan Aceh Jaya
Harian Aceh, Banda Aceh
Setelah selama empat hari ini air laut memerah terlihat di sepajang pantai timur, utara, Pidie hingga ke Pulo Aceh, Senin kemarin giliran nelayan Aceh Jaya melaporkan perairan mereka air laut memerah. Nelayan di sana langsung melakukan doa tolak bala dan wirid yasin.
Wakil Sekjen Panglima Laot, Miftahuddin Cut Adek, mengaku telah ditelpon Panglima Laot mengabarkan kejadian itu. “Mereka minta kami memberitahu fihak berwenang dan masyarakat, agar waspada pada fenomena alam lanjutan akibat kejadian ini,†katanya.
Menurut Cut Adek, para nelayan dan warga pesisir mulai resah karena kabar sebelum kejadian tsunami lalu ada kejadian serupa. “Isunya begitu, kita diminta memberitahukan warga pesisir agar waspada,†lanjutnya.
Di Aceh Jaya sendiri, warga bersama nelayan mulai tadi malam melakukan wirid yasin dan doa tolak bala. Panglima Laot Wilayah Aceh Jaya, Suriadi mengatakan berdasarkan laporan nelayan, air laut bewarna merah sedang menuju perairan Aceh Jaya. “Sudah delapan mil lepas pantai dari Pulau Rusa, atau sekitar 30 mil lagi masuk ke perairan Aceh Jaya,†katanya.
Apalagi, katanya, Minggu kemarin ada warga yang melihat air laut kemerahan dari jauh. “Ini pertanda apa, kami tidak tahu. Karena itu, malam ini kami warga Lhok Calang memutuskan mengadakan doa tolak bala dan wirid yasin, agar terjauh dari segala marabahaya,†ujarnya kepada Harian Aceh via telpon, saat dhubungi usai melakukan doa bersama sekitar pukul 23.50 WIB Senin tengah malam.
Ia menghimbau seluruh Panglima Laot di wilayah masing masing melakukan hal serupa. “Apalagi beberapa hari lalu kami menerima sms dari sebuah nomor, bahwa akan ada bala lebih besar dari tsunami di Aceh, kami tentu takut dan memohon Allah menjauhkan kita dari segala marabahaya,†ujarnya.
Menurutnya, beberapa nelayan melaporkan di sekitar air laut merah terdapat ikan ikan mati, “Bahkan mereka — nelayan – yang mencium bau air itu menjadi pusing,†katanya menirukan laporan nelayan padanya.
Sementara itu fenomena alam air laut merah masih tetap terlihat hingga kemarin di hampir seluruh pesisir Timur, Utara hingga Barat Aceh. Namun kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Ir Razali yang dihubungi hari Minggu kemarin mengaku baru tahu kejadian itu dari Harian Aceh. “Saya baru tahu dari anda, kita lihat dan buktikan dulu kebenarannya,†ujar Razali. Ia berjanji akan mengecek dan melaporkan ke Gubernur dan Jakarta, bila benar ada kejadian itu.
Perairan bewarna merah yang membuat heboh warga dan nelayan terjadi mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Perairan Pidie, Pulo Aceh hingga memasuki perairan Aceh Jaya. Walau takut, warga nelayan tetap melaut karena tidak punya pilihan lain. “Saya melintasi air merah dan menangkap ikan di lokasi lain yang airnya masih biru, tapi ikannya memang jadi sedikit,†aku Maimun, nelayan asal Ule Lheu, Banda Aceh.
Dia mengatakan, gejala air laut yang kemerahan persis seperti darah itu berpindah-pindah posisinya setiap hari. Walaupun demikian, para nelayan di Banda Aceh ini mengaku belum pernah merasakan hal-hal aneh selama mereka berada di laut.Kecuali hasil tangkapan yang jauh berkurang.
Maimun mengaku selama gejala tersebut ikan-ikan di laut berkurang.â€Sebelumnya penghasilan kami Rp300 ribu perhari, tapi sejak kejadian itu tinggal Rp100 ribu hingga Rp150 ribu,†aku Maimun.
Sementara di Pidie dan Lhokseumawe Aceh Utara juga serupa. Air laut masih memerah. Namun umumnya nelayan mengaku tidak terpengaruh. “Kami di sini tetap melaut. Mata pencaharian kami hanya sebagai nelayan. Kalau tidak melaut keluarga kami makan apa?†ujar Ismail, 40, nelayan Pusong, Lhokseumawe, kepada Harian Aceh.[]
sumber: harian-aceh.com
Related Links




Reply With Quote



Bookmarks