Aceh merupakan pusat tamadun Melayu yang bercorak Islam. Setelah masuknya Islam di Aceh daerah ini menjadi pusat perkembangan sastra dan budaya Islam, dan dalam sejarah peradaban dunia Nangro Aceh menjadi terkenal dengan nama “Serambi Mekah. Kalau kita perhatikan posisi terletaknya Aceh dalam Dunia Melayu atau Malay Archipelago yang juga dikenal dengan sebutan Nusantara kita akan jumpai berbagai faktor yang memperkenalkan Aceh di dunia internasional.
Kalau kita mencari arti kata nama Aceh, akan muncul banyak pemikiran dan julukan yang dijumpai dalam sejarah. Menurut saya nama Aceh muncul dari sebuah kisah di masa lampau ketika suatu rombongan para mubaligh Islam dari India tiba di sini. Dalam perjalanan di laut dan rintangan cuaca yang buruk kapal para mubaligh ini rusak dan tenggelam di laut dan mereka berenang ke pantai guna menyelamatkan diri. Di luar pun mulai hujan. Dalam keadaan ini di negeri asing ini mereka tidak tahu bahasa lokal. Melihat keadaan yang baik, penghuni setempat mulai datang dan memberikan pertolongan bermacam-macam kepada mereka, seperti pakaian, makanan, dan mengajak ke tempat yang aman. Melihat kesayangan orang setempat para mubalig India mulai berbicara dengan bahasa Urdu dan mengatakan “Bande Ashe” yakni “Orang Baik”. Banda adalah kata untuk seorang dalam bahasa Urdu, Persia, Hindi, Punjabi, dan Bengali, sedangkan Bade adalah jamak dari kata Bada (orang). Kiranya sejak itu daerah ini mulai dikenal dengan nama Bade Ashe dan selanjutnya berubah menjadi Banda Aceh.
Indonesia juga dalam sejarah terkenal dengan berbagai nama seperti Nusantara, Suwarnabhumi (negeri emas) Dwipantara (negeri kepulauan), Jazair Sharq al-Hind (negeri India Timur), dan di masa kolonial Belanda sebagai Hindia Belanda (Dutsch East India).
Bahasa Melayu mempunyai hubungan bersejarah dengan Bahasa Persia. Bahasa Persia telah menjadi sebagai bahasa resmi di India pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di India, dan dari sini bahasa dan sastra Persia mulai masuk ke Asia Tenggara dan Cina. Para pedagang yang sebagian besar adalah ilmuwan membawa buku-buku agama dan sastra ke Dunia Melayu. Banyak karya-karya sastra dan mistik Persia dipelajari oleh para sufi Melayu di Aceh, Malaka, Cirebon, dan Banten.
Indonesia merupakan negeri kepulauan terbesar di dunia dengan 17508 pulau dan dengan 208 juta jiwa penduduk negeri ini merupakan negara yang paling besar berpenduduk Islam di dunia. Bahasa Indonesia (Melayu) sejak beberapa abad telah menjadi lingua frace di seluruh Nusantara. Kini Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Dunia Islam yang modern dan memiliki khazanah sastra yang unik karena dalam bahasa Indonesia terdapat pengaruh sastra dan budaya dunia Timur dan Barat. Kini Bahasa Melayu (Indonesia) dipakai sebagai bahasa resmi di Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bahasa Melayu juga di pakai oleh Orang Islam di Thailand Selatan dan Pilippina dalam karya-karya agama Islam. Istilah Nusantara menunjukkan bahwa Bahasa Melayu pertama-tama dipergunakan oleh orang Sumatra dan kemudian bahasa ini mulai dipakai di seluruh Nusantara karena suku bangsa di kawasan ini mempunyai berbagai kesamaan dalam bidang agama dan budaya.
Suku bangsa Melayu hampir semuanya adalah beragama Islam yang tinggal di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei, Pilippina Selatan, dan Compuchea Selatan. Pengaruh bahasa Melayu terdapat di Vietnam, Compuchea, Sirilanka Utara serta Afrika Selatan, dan Surinam.
Sebagian besar sastra Islam dan pemikiran Islam di dunia Melayu telah berkembang melalui pusat-pusat peradaban Melayu seperti Malaka (abad ke-15), Jawa (abad ke-16), Aceh (abad ke-17 dan 18), Kelantan dan Pattani (abad ke-19). Pusat-pusat peradaban Melayu dan Islam terletak di kota-kota seperti Malaka, Demak, Ampil, Barus, Singkel, Banda Aceh, Kelantan, dan Pattani. Peradaban Melayu dan Islam dikembangkan oleh para sufi dan ulama, dan proses ini berlangsung beberapa abad.
Samudra Pase (1280-1400M) di Sumatera, Indonesia merupakan suatu pusat peradaban Melayu dan pensiaran agama Islam yang paling besar dan terpenting. Peranan Samudra Pase dalam pengambangan Islam dan peradaban Melayu bercorak Islam adalah sangat besar. Pusat kebudayaan Melayu Malaka (1400-1511M) juga mempunyai saham sangat besar dalam kemajuan sastra Islam Melayu. Setelah Malaka, Aceh (1511-1650M) menjadi poros kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia Melayu. Pusat kebudayaan Melayu Johor-Riau (1650-1800) juga mempunyai peranan besar dalam pengambangan kebudayaan Melayu.
Pengaruh Sastra Arab dan Persia dalam sastra Melayu terjadi melalui dua jalur, satu secara langsung dari kawasan tersebut, dan kedua melaui India. Pada masa itu kerajaan-kerajaan Melayu mempunyai hubungan erat sekali dengan India, dunia Islam, dan dunia internasional. Para sultan Melayu berusaha keras untuk mengembangkan sasrta dan kebudayaan Melayu pada masa itu. Marco Polo, peloncong dari Venisia di Italia dalam perjalanannya ke Cina pada tahun 1292M melewati Perlak, Samudra Pase di Sumatra dan menyatakan bahwa Samudra Pase telah menjadi sebuah pusat kebudayaan peradaban Islam dan pengetahuan yang paling besar. Sultan pertama Kerajaan Samudra Pase adalah Merah Silu yang masuk Islam atas dakwah yang dilakukan oleh Sheikh Ismail dan Faqir Muhammad, dan Merah Silu diberi nama Malik as-Salih sebagai raja pertama di Samudra Pase. Setelah masuknya Islam, Pase menjadi pusat peradaban Islam dan kebudayaan Melayu yang paling besar. Ibn Batutah, peloncong dari Moroko pada tahun 1345M tiba di Pase dan melihat kemajuan kerajaan Islam pase dan berkata bahwa pada masa itu Sultan Pase adalah Malik as-Zahir yang merupakan seorang ulama besar dan suka sekali ilmu pengetahuan. Di keraton kerajaan Pase Ibn Batutah melihat dua ulama besar agama Islam dari Iran yaitu: Qadi Amir Syed dari Shiraz, dan Tajuddin dari kota Isfahan. Di samping itu juga terdapat disini seorang ulama besar sebagai utusan kerajaan Islam Delhi di India yaitu Amir ad-Daulah.
Pada saat itu Samura Pase merupakan pusat kebudayaan Melayu yang paling besar. Dikatakan bahwa seorang sheikh di Mekah bernama Abu Ishaq menulis sebuah buku berjudul “Dur al-Mazum” dan mengirimkan sebagai hadiah melalui seorang muridnya kepada sultan Malaka, Sultan Mansur Shah. Karena buku itu adalah dalam bahasa Arab dan Sultan tidak tahu isinya, maka Sultan Mansur Shah kirim buku itu ke Samudra Pase untuk diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dan minta penjelasan tentang isi buku itu. Setelah diterjemakah buku ini di Aceh dikirim kembali oleh kerajaan Samudra Pase kepada raja Melaka Sultan Mansur Shah, dan buku itu sangat digemari oleh raja Melaka. Buku pertama yang ditulis dalam kerajaan Pase adalah Hikayat Raja-jara Pase (Sejarah Kerajaan Pase).
Islam masuk di Malaka pada tahun 1409M, dan dalam waktu yang singkat Malaka menjadi pusat peradaban Islam dan budaya Melayu yang paling besar. Para murid dari seluruh tanah Melayu datang kesini untuk Ilmu agama, seperti Maulana Ishaq, seorang mubaligh dan sufi dari Jawa belajar disini. Sunan Bonamg dan Sunan Giri juga belajar di Malaka pada akhir abad ke-15. Raja Malaka Sultan Mahmood mengatakan bahwa Malaka merupakan pusat kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan seperti Makah di Arabia. Di Malaka telah dipergunakan buku-buku agama seperti Hadith, Ilmu Kalam, dan mistik. Kara Imam Gazali, Ihya Ulum ad-din, Kitab At-Tauhid karya Abu Syakur, dan buku Taksis al-Minhaj karaya Imam an-Nabawi al-Bantani di ajarkan disini.
Setelah Malaka dikuasai oleh Pajjajah Portugis pada tahun 1511M, Aceh menjadi pusat Ilmu dan Kebudayaan Islam dan peradaban Melayu. Di masa raja-raja Aceh seperti Sultan Iskandar Tsani, Sultan Iskandar Muda, dan Sultanah Safiatuddin, Aceh menjadi pusat sastra dan peradaban Melayu yang paling besar. Para sufi trekenal dunia Melayu seperti Hamzah Fansuru, Shamsuddin al-Sumatrani, Nurrudin Ar-Raniry, Abdur Rauf al-Singkeli, dan Bukhari al-Jauhari hidup disini. Hamzah Fansuri merupakan penyair pertama Bahasa Melayu dan dia pertama kali memperkenalkan tasawuf Wahdattul Wujud di Aceh dan menulis karya-karya agung dalam Sastra Melayu seperti: Sharab al-Ashqin, Asrar al-Arifin, al-Muntahi, dan Rubaiyat. Nuruddin Ar-Raniry yang datang ke Aceh dari India merupakan lawan terkemuka ajaran Wahdatul Wujud yang dikenalkan disini oleh Hamzah Fansur. Nuruddin Ar-Raniry menulis 29 buku dan memperkenalkan ajaran tasawuf Wahdat as-Shud di Aceh sebagai perlawanan terhadap Wahdatul Wujud yang merupakan ajaran dari Al-Hallaj dari Iran melalui karyanya buku Tawasin, dan ajaran ini diperjelaskan oleh Ibn Arabi dalam karyanya berjudul Fusus al-Hikam, dan selanjutnya Hamzah Fansuri mengembangkan ajaran ini di Aceh. Nurruddin Ar-Raniry juga menulis buku terkenal di Aceh dalam Bahasa Melayu dengan judul Bustan As-Salatin (kisah-kisah para raja) pada tahun 1630M. Bukhari al-Jauhari menulis buku terkenal Taj as-Salatin di Aceh. Sheikh Abdur Rauf al-Singkli menulis buku Daqaiq al-Huruf, di Aceh. Karya-karya para sufi ini mempunyai pengaruh Persia cukup besar.
Kerajaan Samudra Pase di Aceh (1280-1400) adalah di zaman ketika di Iran dikuasai oleh Bangsa Mongol (1256-1336M) setelah runtuhnya kerajaan Abbasiah di Baghdad. Di India pada saat itu berkuasa Sultan Ghiasuddin Baban (1266-1287) dari kerajaan Islam Delhi di India. Setelah itu raja-raja dinasti Khilji (1290-1320), dan Dinasti Tughlaq (1320-1417), berkuasa di India. Ibn Batutah di hadapan Sultan Muhammad Tughlaq di Delhi mengatakan bahwa Kerajaan Samudra Pase adalah hampir sama dengan Kerajaan Delhi, dan Sultan Samdura Pase sangat memperhatikan para sufi, penyair, dan ilmuwan. Seorang mubaligh India Abdullah ibn Muhammad meninggal dunia di Pase pada tahun 1407M. Dia datang ke Pase dari Delhi.
Setelah masuknya Islam di Dunia Melayu, pengaruh Arab-Persia dalam Sastra Melayu nampak sekali dan puisi dalam Bahasa Melayu dinamakan Syir, dan puisi ini mempunyai dasar-dasar sama dengan bahasa Arab dan persia. R.O.Wintedt dan Naguib al-Attas menganggap bawa syair Melayu pertama kali ditulis oleh Hamzah Fansuri (1550-1600M). Menurut Naguib al-Attas bentuk Rubai dalam bahasa Arab dan Persia adalah AABA namun Rubai Hamzah adalah bentu baru ciptaannya sendi oleh Hamzah, dalam bentuk AAAA, dengan nama Syair Kawi, walapun dalam pemikiran Hamzah terdapat pengaruh para sufi Arab dan Persia seperti Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi. Hamzah Fansuri dalam Rubaiyat berkata:
Dengarkan sini, hai anak datuk!
Ombak dan air asalnya berastu
Seperti manikan muhit dengan batu
Inilah tamthil engkau dengan ratu.
Di Aceh pada abad ke-16 dan 17M tasawuf telah berkembang secara pesat dan para sufi menulis karya-kaya irfani yang mempunyai pengaruh pemikiran para sufi seperti Imam Ghazali, Ibn Arabi, Hallaj, dan Jaluddin Rumi. Pengaruh budaya dan sastra Persia mucul dalam sastra Melayu pada abad ke-13 melalu Iran dan India yang terdiri dari kisah-kisah Ahl-al-Bait, dan perayaan Ashura pada bulan Muharranm di Aceh, Minangkabau, dan Jawa. Menurut Baroroh Baried dalam sastra dan kebudayaan Melayu pengaruh Shi’ah Iran cukup besar, khususnya dalam Hikayat-hikayat bernafas agama Islam.
Dalam sastra Melayu pengaruh Persia cukup besar dan bisa dilihat dalam berbagai karya. Misalnya dalam buku Sejarah Melayu terdapat syair Persia dari Bustan Saadi:
Raiyat chu Bikh and wa Sultan Dirakhat.
Dalam karya Shamsuddin as-Sumatrani, “Nur ad-Daqaiq” terdapat zarb al-Misal Farsi seperti:
Nist Hastiye man magar Allah.
Dalam karya-karya Hamzah Fansuri seperti kitab Sharab al-Ashiqin terdapat 2 kata Farsi, dalam Asrar-al-Arifin 6, dan di al-Muntahi terdapat 20 kata Farsi. Pengaruh Persia sangat menonjol dalam karya Taj as-Salatin tulisan Bukhari al-Jauhari. Selain itu dalam karya Nurruddin Ar-Raniry, Bustan-as-Salatin pengaruh karya Sheikh Saadi: Gulistan, dan Bustan jelas sekali. Dalam karya Abdur Rauf al-Sinkli juga terdapat pengaruh pemikiran para sufi Iran. Dalam syair-syair Hamzah Fansuri seperti Syair Perahu, Syair Dagang, dan Syair Burung Pinggai, pengaruh Persian jelas sekali. Hamzah Fansuri hidup di Aceh pada masa Sultan Alauddin Raiyar Shah (1589-1604M). Dia mengguasai bahasa Persia dan Arab secara mendalam. Dalam karya-karya Hamzah secara jelas bisa dilihat pengaruh pemikiran para sufi dan penyair Persia seperti: Abdul Kadir Jaelani, Hallah, Junaid, Jalaluddin Rumi, Abdur Rahman Jami, Jili, Bayazid Bistami, Attar, Shams Tabrizi, Umar Khayam, Shah Nimatullah Wali, Imam Ghazali, Hafiz, dan Saadi. Hamzah tutup mata dari dunia ini pada tahun 1607M. Kini dalam Bahasa Melayu terdapat lebih dari 403 kata Bahasa Persia. Buku Hikaya Raja-raja Pase mempunyai pengaruh besar dari Bahasa persia. Dalam buku ini terdapat banyak kata Persia, dan alur penulisannya berjejak pada Shah Nameh Fidausi, dari Iran. Kitab Hikayat Aceh juga mempunyai pengaruh Persia yang cukup sekali.
Menurut Allesandro Bausani di Aceh telah ditemukan sebuah naskah yang dinamai “Bunga Rampai Puisi Tasawuf” , dalam karya ini terdapat Ghazal dari arif Persia terkenal Jamalul Arifin Sheikh Fakhruddin Ibrahinm Iraqi:
Katakannya jika daripada anak Adam sekalipun
Rupaku juga daripada pihak segala tingkat dengan segala barang perinya tertinggi aku daripadanya
Dalam naskah itu juga terdapat puisi dari Gulistan Saadi, dan Umar Khayam.
Oleh: Dr. Muhammad Zafar Iqbal



Reply With Quote



Bookmarks