Penyelesaian konflik bersenjata selama puluhan tahun secara bermartabat di Aceh antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan tercapainya kesepakatan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu, ternyata saat ini menjadi model yang ditiru dan menjadi rujukan untuk diterapkan di negara-negara lain.
Menteri Luar Negeri (Menlu), Hassan Wirajuda mengatakan, penyelesaian konflik Aceh yang membawa dampak bagi pulihnya kondisi keamanan di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera tersebut, juga telah ikut mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata internasional.

"Cara kita mengakhiri konflikyang selama 29 tahun di Aceh, ternyata menjadi rujukan pihak lain. Mereka datang kepada saya untuk bertanya cara menyelesaikan konflik, seperti yang terjadi Srilanka, Thailand Selatan dan juga Pilipina," ujar Hassan Wirajuda dalam sambutannya saat meresmikan kampus Politeknik Indonesia-Venezuela di Aceh Besar, Rabu (12/8).

Menurutnya, situasi keamanan yang semakin kondusif sejak empat tahun lalu, juga menjadi salah satu faktor yang menjadi keberhasilan pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami yang saat ini dinilai berhasil dan dibangun lebih baik lagi.

"Perlu juga kita ketahui, masyarakat Aceh dan Indonesia dalam rapat PBB, sepanjang sejarah penanganan bencana alam dunia, kegiatan rehab rekon yang dilakukan di Aceh merupakan yang terbaik di dunia untuk sementara ini. Karena itu, sangat tepat untuk melanjutkan kegiatan rehab rekon dan mengisi perdamaian Aceh dengan berbagai kegiatan yang bisa membuat Aceh menjadi lebih baik lagi," ujar Menlu.

Tanpa Hambatan

Sementara Gubernur Irwandi Yusuf dalam kesempatan yang sama juga mengungkapkan, rakyat Aceh patut bersyukur kepada Allah SWT, karena tidak sampai delapan bulan setelah tsunami, perdamaian terwujud di Aceh sehingga proses rekonstruksi dapat berjalan tanpa hambatan berarti.

"Ini menjadi modal yang bisa disumbangkan Aceh untuk penyelesaian berbagai konflik yang masih terjadi di belahan dunia lainnya. Kami berharap apa yang telah dicapai di Aceh dapat dijadikan "role model" baik untuk membangun kembali suatu wilayah pascabencana maupun penyelesaian konflik," kata Irwandi.

Ditambahkannya, Aceh sekarang adalah salah satu provinsi paling aman bagi investasi. Pemerintah Aceh memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan kepada setiap investor yang ingin menanamkan investasinya di Aceh.

"Jangan ada keraguan sedikit pun untuk berinvestasi di Aceh. Potensi investasi di berbagai sektor yang tersedia di Aceh sangat besar dan prospeknya juga menjanjikan. Pemerintah Aceh mengharapkan kepada para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk memanfaatkan peluang yang tersedia tersebut," ujarnya.

Pemerintah Aceh juga mengharapkan agar hubungan yang telah terbina baik antara Venezuela dan Aceh dengan pembangunan kampus Politeknik di Aceh Besar, akan terus berlanjut melalui berbagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.

"Secara khusus, kami mengharapkan kepada Wakil Menteri Pendidikan Venezuela untuk dapat memfasilitasi para investor di negara Anda agar mau menanamkan investasinya di Aceh. Kami juga mengharapkan ada kunjungan para pengusaha Venezuela ke Aceh untuk melihat berbagai potensi investasi yang terbuka luas di sini. Dengan begitu, hubungan baik ini akan terus terjalin. Semoga harapan ini bisa segera terwujud dalam waktu dekat," harapnya. (mhd)